Home » berita Umat » DHARMA SANTI PERAYAAN NYEPI SAKA 1936

DHARMA SANTI PERAYAAN NYEPI SAKA 1936

CAK RAMAYANA “SITA KEPANDUNG”

Untuk kedua kalinya Parisada Provinsi Kepulauan Riau mengadakan acara Dharma santi di Ball Room Lt 6 Hotel Harmoni One Batam Center. Kali ini dilaksanakan pada Sabtu 5 April 2014 sehari sebelum minggu tenang pemilu legislative 2014. Pemilu legislative dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014.

 

Sejak pukul  4 sore seksi acara yang dikoordinir oleh Dara Astuti bersama  Team Multimedia terlihat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya agar acara berjalan dengan lancar.

Umat dan para tamu undanganpun mulai berdatangan memenuhi ruangan.

 

Setelah makan malam bersama, Team penabuh yang sebagian besar didatangkan dari Bintan segera memainkan beberapa tetabuhan pengisi waktu.  Kemudian pada pukul  7 malam tamu  VVIP Wakil Gubernur Kepri  Dr. Suryo Respationo, SH, MH didampingi Istri  memasuki ruangan acara diikuti music Bleganjuran, dan sluruh umat dimohon berdiri dan menyambut kedatangan wakil gubernur.

Tamu penting yang hadir malam itu diantaranya Gubernur Provinsi kepulauan Riau yang diwakili oleh Kadis Kebudayaan Kepri  Drs. Arifin Nazir, M.Si, Wali Kota Batam yang diwakili oleh  Assisten III Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kota Batam Drs, Zujairi, M.Si, DPRD Kota Batam Asmin Patros, SH , serta Ibu Aida Ismeth sebagai anggota DPD Kepri, serta beberapa undangan dari wakil FKUB. Tampak juga calon legislative DPD Kepri Jasarmen Purba.

Berhubung Wakil Gubernur Suryo Respationo ada kegiatan ditempat lain, maka setelah beliau memberikan kata sambutannya acara dilanjutkan dengan pembagian Cinderamata. Yang diberikan cenderamata malam itu adalah Wakil Gubernur, DPRD Kepri, Kemenag Kepri, FKUB Provinsi, Walikota Batam, DPRD Kota Batam, Kantor Kemenag Batam.

Puncak acara Dharmasanti diisi dengan pergelaran Tari Cak Ramayana dengan judul Sita Kepandung yang mengisahkan penculikan Dewi Sita oleh Rahwana. Tak kurang dari 30 orang penari cak sebagai pendukungnya. Kisah ini dimulai dari pengasingan Rama, Sita, dan Laksamana ke Hutan Dandaka. Banyak cobaan yang dihadapi Rama dan Laksmana, dalam pengembaraannya di hutan. Mereka harus menghadapi para raksasa yang meresahkan masyarakat di sekitar hutan Kandaka itu. Rahwana yang menjadi raja raksasa di Alengka, dengan bantuan Marica yang mengubah diri menjadi kijang keemasan, untuk menculik Sita. Rama memanggil Laksamana untuk menjaga Sita, karena akan pergi menangkap kijang tersebut. Sita mendengar jeritan dari dalam hutan dan menyuruh Laksamana menyusul ke hutan. Rahwana yang menyamar menjadi brahmana berhasil menculik Sita dan dibawa ke Alengka. Rama memberikan cincin kepada Hanoman sebagai bukti Rama masih dalam keadaan selamat. Untuk mencapai Alengka, Hanuman meloncat dari puncak gunung Mahendra. Setibanya di ibukota Alengka, Hanuman berhasil menemui Sita dan mengabarkan bahwa Rama akan segera membebaskannya. Sita memberikan bunga kepada Hanoman sebagai pertanda Sita masih dalam keadaan selamat.

Di Alengka Pura, Rahwana berusaha untuk membujuk Sita agar mau menjadi istrinya dan disaat bersamaan Rama dan Laksamana datang dan terjadi perselisihan, akhirnya Rama berhasil mengalahkan Rahwana  “sang dasa muka”.

Dengan berakhirnya pergelaran Cak Ramayana tersebut maka berakhir pula acara malam Dharmasanti perayaan Nyepi Saka 1936 yang diakhiri dengan sesi photo bersama.