Home » berita Umat » GALUNGAN DI MASA PANDEMI

GALUNGAN DI MASA PANDEMI

Pura Satya Dharma

Enam bulan sudah semenjak wabah Pandemi Virus Covid-19 sampai di Indonesia. Semua aktifitas yang melibatkan banyak orang harus mengikuti ketentuan protocol kesehatan yang diamanatkan oleh pemerintah.
Tak terkecuali kegiatan keagamaan juga harus dibatasi. Persembahyangan bersama telah ditiadakan hampir lima bulan. Sejak awal Juli 2020, yang disebut era new normal atau kebiasaan baru, sembahyang bersama mulai diperbolehkan dengan syarat tetap mengikuti aturan protocol kesehatan yaitu, pengukuran suku tubuh saat masuk ke area Pura, cuci tangan dengan sabun di air mengalir, memakai masker dan jaga jarak alias tidak berkerumun.
Tidak ada kata batal merayakan galungan. Demikian kurang lebih pepatah Bali mengatakan. Sehingga rangkaian hari raya Galungan tetap dilaksanakan seperti biasa.
Pada hari selasa 15 September 2020 adalah hari Penampahan Galungan. Sudah barang tentu di hari penampahan tersebut umat Hindu mengadakan acara masak masak bersama di areal pura Agung. Tanpa ngelawar, perayaan Galungan terasa kurang lengkap. Biasanya sebagian umat ambil cuti mulai hari Penampahan.

Penjor Galungan

Kantin Pasraman terasa bergairah kembali. Bunyi talenan bersaut sautan dipakai merajang bumbu dan nyincang daging. Asap ngepul dari pemanggangan sate daging tusuk. Tak kalah menarik, satu ekor babi guling yang cukup besar dengan bobot hampir 15 kg diguling di atas bara api yang baunya cukup harum kemana mana.
Sebagian umat yang hadir bertugas membuat penjor galungan yang dipasang di depan kori agung dan di samping akses jalan masuk pura. Bamboo melengkung yang dihias janur dengan segala pernak perniknya. Itulah penjor yang biasa kita lihat umumnya di bali.
Hari Rabu 16 September 2020 yaitu hari raya Galungan, yang menurut perhitungan Kalender Bali jatuh pada Rabu, Kliwon, Dungulan. Pagi harinya Persembahyangan bersama dilaksanakan di Pura Satya Dharma Muka Kuning, yaitu di areal Dormitory Batamindo Blok E/5. Persembahyangan ini dipimpin oleh Jro Mangku Agung Arif Suryanata.
Security Batamindo turut mengatur lalu lintas menuju lokasi Pura. Tempat parkirpun tidak mencukupi sehingga umat memarkirkan kendaraannya disisi jalan utama. Persembahyangan dimulai jam 10 pagi. Kebetulan cuaca sangat bersahabat, sinar matahari tidak terasa menyengat di kulit.
Areal Mandala utama Pura Satya Dharma berkapasitas sekitar seratus orang dalam kondisi normal. Namun dalam situasi pandemic ini kapasitasnya hampir separuhnya karena tidak boleh duduk berdekatan. Harus jaga jarak meskipun jarak satu orang dengan yang lainnya tidak sampai satu meter. Oleh karena kapasitas yang dikurangi, maka persembahyangan terpaksa diadakan dalam dua gelombang.
Pada malam harinya persembahyangan bersama dilaksanakan kembali di Pura Agung Amerta Bhuana yang dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satria Yasa, dengan tetap mengikuti protocol kesehatan. SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN.