Home » berita Umat » Kunjungan Rombongan Wakil DPRD Bali Ke Pura Agung

Kunjungan Rombongan Wakil DPRD Bali Ke Pura Agung

Bersama Umat Hindu di Batam

Minggu, 30 september 2018, rombongan dari Wakil DPRD Bali sebanyak 12 orang berkunjung ke Pura Agung untuk bertirta yatra. Ini bagian dari agenda kunjungan kerja mereka ke Batam. Sekaligus ingin bertatap muka dengan umat Hindu yang ada di Batam dan sekitarnya, menggali masukan-masukan tentang permasalahan umat di daerah.

Tiba di Pura Agung sekitar pukul 1 siang, molor dua jam dari rencana awal. Disambut oleh tokoh tokoh hindu di batam, para pengurus lembaga agama dan kelembagaan agama Hindu di batam.
Diawali dengan sembahyang bersama, dibawah terik sinar mentari yang terasa menyengat kulit. Sembahyang bersama di Mandala Utama dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa dan Jero mangku agung Arief Suryanata.

Sekitar pukul 14.30 rombongan ditunggu umat dan pengurus Lembaga di aula Pasraman Jnana Sila Bhakti. Diawali dengan makan siang bersama sebagai jamuan selamat datang.
Dialog dipandu oleh I Putu Suardika, sebagai pengurus Parisada Provinsi Kepri dan juga pengurus Badan otorita Pura. Sebagai Narasumber dibawakan oleh Gusti Bagus Alit Putra yaitu Wakil Ketua DPRD Bali dan didampingi oleh Wayan Catra Yasa sebagai sesepuh umat Hindu Kepri.
Kesempatan pertama diberikan kepada Ketua Paruman Walaka umat Hindu Kepri Dr. Drs. I Wayan Catrayasa, M.M. yang menyampaikan selayang pandang sejarah pembangunan pura, dari usaha pencarian lahan yang cocok yang direkomendasikan oleh pemerintah daerah waktu itu sekitar tahun 1999, hingga kondisi Pura sampai saat ini yaitu dengan diadakannya piodalan ke 9 yang jatuh pada tanggal 24 Oktober 2018.

Berikutnya adalah sambutan dari ketua rombongan yaitu I Gusti Bagus Alit Putra, SH, S.os, M.Si. Mantan bupati badung, kader Partai yg dipimpin Susilo Bambang Yudoyono. Diakhir sambutannya, Alit Putra menyerahkan sumbangan punia 5 juta rupiah untuk kelangsungan operasional umat di batam. Pada intinya tamu undangan merasa sangat bahagia dan berterima kasih sekli atas sambutan umat yang sangat luar biasa. Menurut mereka, umat diluar Bali memang sangat kompak dengan kuatnya rasa menyama braya. Beliau juga bercerita tentang pengalamannya saat pertama kali berkunjung ke Batam di tahun 90an.

Dalam Sesi dialog dan Tanya jawab, penanya pertama menanyakan tentang calon DPD Bali yang berjumlah 21 orang. Sedangkan dari umat lain mencalonkan hanya 1 orang. Intinya penanya pingin tahu pandangan politis anggota Dewan terhadap fenomena ini. Apakah ini artinya umat Hindu di Bali kalah strategi ataukah bagaimana. Terhadap pertanyaan ini, Alit Putra memberikan jawaban bahwa setiap warga Negara memiliki hak untuk mencalonkan diri sebagai anggota Dewan atau anggota DPD sepanjang mengikuti aturan yang ada. Dan sebaliknya tidak mungkin untuk melarang umat lain untuk mengajukan calon mereka.

Penanya kedua menanyakan tentang menjaga ajeg Bali. Masyarakat Bali sudah mengalami pergeseran nilai nilai budaya yang diakibatkan oleh budaya luar yang begitu deras masuk seiring dengan perkembangan dunia pariwisata. Tentang hal ini Alit Putra mengatakan bahwa Masyarakat Bali sudah dibentengi oleh tatanan masyarakat yaitu Desa Pakraman. Ini akan menjaga Bali dari rongrongan budaya luar.

Penanya ketiga, yang kebetulan menjabat sebagai Ketua Parisada Kota Batam, menanyakan seputar pemberian bantuan dari pemerintah daerah untuk lembaga agama yang berada diluar daerah. Menanggapi hal ini, Alit Putra mengatakan bahwa memang peraturan menteri saat ini memang demikian, pemerintah daerah tidak bisa lagi memberikan bantuan/ hibah kepada lembaga keagamaan di daerah lain. Beliau mengatakan, jikalaupun ada, silakan bikin proposal, nanti dibantu difasilitasi penyampaiannya.

Acara selesai pukul 4 sore dan diakhiri dengan sesi photo bersama di depan Kori Pura Agung. (igstng’18)