Home » berita Umat » Pelatihan Tata Rias WHDI Kepri

Pelatihan Tata Rias WHDI Kepri

Photo Bersama – diakhir acara

Wanita tidak bisa terlepas dari kata berhias atau bersolek. Tak jarang wanita menghabiskan waktu berjam jam untuk urusan satu ini, berhias. Itu dulu. Kini seiring dengan tuntutan jaman yang serba cepat dan praktis urusan satu ini bisa dilakukan dalam hitungan menit. Bahkan bisa dilaksanakan saat dalam perjalanan.

Tak dipungkiri rias wajah pun kini bisa dilakukan tanpa cermin. Seperti halnya saat dilaksanakan lomba make up tanpa cermin yang dilaksanakan oleh WHDI Batam beberapa waktu yang lalu.
Sabtu 20 oktober 2018 seorang narasumber yaitu Dr. Dra Anak Agung Ayu Ketut Agung, MM dari salon Agung yang telah malang melintang di dunia tat arias khususnya persanggulan. Sanggul salah satu pakaian resmi nasional, demikian kata Ketut Agung saat memberikan kata pembukaan sebelum pelatihan dimulai. Bahkan beliau mengatakan bahwa sekarang jika ke istana Negarapun boleh pakai sanggul karena merupakan pakaian resmi. Budaya asli yang harus dilestarikan.

Acara pelatihan ini dilaksanakan di Aula Pasraman, di area pura Agung mulai pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Sebanyak 48 orang dari Ibu ibu WHDI yang mengikuti pelatihan tata rias tersebut secara gratis. Termasuk 3 orang dari Bintan. Seperti yang disampaikan ketua WHDI Kepri, Ibu Dara Astuti, pelatihan ini merupakan kesempatan yang sangat baik disamping gratis juga ilmunya yang sangat berguna dan diberikan sertifikat.

Ibu Agung ini kebetulan mengadakan lawatan ke Batam yang didampingi oleh beberapa anggotanya untuk kegiatan yang berhubungan dengan Tata Rias. Atas koordinasi dengan ketua whdi kepri yang saat ini sudah tinggal di bali, diaturlah sesi pelatihan untuk Ibu-ibu WHDI Kepri tersebut yang bertajuk Pelatihan Pusung Tagel dan Tengkuluk Lelunakan. Ibu Dara Astuti datang ke Batam seklaigus dalam rangka menghadiri upacara piodalan Pura Agung Amerta Bhuana yang ke-9.

Ibu Agung memperagakan langkah langkah membuat Pusung Tagel dengan mengambil ibu-ibu sebagai model, baik yang memang berambut panjang maupun yang berambut pendek.

Khusus sanggul, bagi yg paham dan mengerti tentang sanggul bisa dibedakan sanggul daerah mana. Penulis masih ingat saat berkunjung ke kraton Jogjakarta bersama bu de pulhan tahun yang lalu. Salah seorang petugas sudah bisa menebak kalau kami dari rombongan dari bali. Katanya dari bentuk sanggul bu de saya.

Model Tengkuluk Lelunakan

Selanjutnya mengenai Tengkuluk Lelunakan, ini adalah salah satu busana adat Bali yang saat ini sudah sangat popular. Bahkan Tengkuluk ini menjadi ikon Kota Denpasar. Pada jaman dulu tengkuluk ini hanya digunakan saat upacara pengabenan dan pada busana Tari Tenun.
Kini tengkuluk mulai dilirik karena sederhana dan simple tapi tetap mencirikan busana adat Bali. Meskipun simple namun tidak bisa dikerjakan secara sembarangan agar tidak lepas dari pakem yang ada. Untuk itulah pelatihan ini diadakan.

Karena keterbatasan waktu, acara pelatihan ini diakhiri pada pukul 12.00 dengan makan bersama, sesi photo bersama dan kemudian Sembahyang bersama di Mandala Utama. (igstng)