Home » pura » Tinjauan Historis Pura Agung Amerta Bhuana

Tinjauan Historis Pura Agung Amerta Bhuana

Pada tahun 1999 merupakan tahun yang memberikan semangat baru bagi umat Hindu di Batam, karena surat dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Batam yang bernomor 013/PHDI/BTM/VI/99 tertanggal 09 Juni 1999 yang inti pokok dari surat itu adalah permohonan lokasi tanah untuk pura kepada Ketua Otorita Batam, bapak Ismeth Abdullah , mendapat tanggapan yang menggembirakan.

Sampai saat ini Parisada telah diberikan dokumen sebagai referensi sehubungan dengan keberadaan pura diantaranya :

  • Surat Ijin Prinsip No : 247/IP/KA/VII/99, tertanggal 26 Juli 1999
  • Hasil pengukuran Lokasi No : 383/AT.2/X/1999, tertanggal 18 Oktober 1999
  • Kode Gambar PL No. : 99010773

Semenjak dikeluarkannya legal aspek oleh otorita Batam, maka Parisada Batam membentuk Panitia Pembangunan Pura yang diketuai oleh Bapak Ketut Widiana Sulatra dengan surat keputusan bernomor 015/PHDI/BTM/VII/1999, mulai bekerja secara bertahap untuk mewujudkan cita-cita membangun pura.

Parisada Batam selalu berpikir kedepan serta m engantisipasi hal hal yang tak diinginkan dimasa masa yang akan datang baik secara skala maupun niskala, maka dari itu langkah yang telah dilakukan untuk senantiasa mendapatkan limpahan Wara Nugraha dari Hyang Widhi serta tahap-tahapan pembangunan adalah sebagai berikut :

    1. Meditasi Bersama. Meditasi bersama dilakukan untuk menentukan letak titik Padmasana, yang telah dilaksanakan pada tanggal 8 Maret tahun Masehi 2000 dari jam 19.00 – 22.00 WIB. Yang dipimpin oleh Mendiang Maha Pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh dari Jakarta
    2. Peletakan Batu Pertama, Pelaksanaan pembangunan Padmasana, Candi Bentar dan Bale Pegat diawali dengan upacara peletakan Batu Pertama pada tanggal 04 Juni 2000. Upacara ini dipimpin oleh Mendiang Maha Pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh serta dihadiri oleh seluruh umat Hindu di Kota Batam dan sekitarnya. Sejak saat itu pembangunan Padmasana dan Bale Pegat dilaksanakan secara terus menurus dan baru dapat dirampungkan pada bulan Juni 2003
    3. Pemelaspasan Alit
      Setelah beberapa bangunan utama selesai, dibangun agar bisa digunakan untuk melakukan persembahyangan, maka diadakan upacara pensucian yang telah dilakasanakan pada tanggal 03 Agustus 2003. Bangunan yang disucikan pada waktu itu meliputi sebuah Padmasana, Candi bentar, dan Balai Pawedan serta areal parkir dengan jalan melingkar. Upacara ini dihadiri oleh bapak Dirjen Bimas Hindu dan Budha Departemen Agama RI. Dan dipimpin oleh Maha pendeta Ida Pedanda Gde Oka Kemenuh.
    4. Pelinggih Penglurah Ratu Gde Dalem Bumi
      Pelinggih ini dibangun setelah sebulan upacara pemlaspasan alit dan telah dihaturkan upacara Pemakuh pada tanggal 10 Oktober 2003. Upacara dilaksanakan bertepatan dengan persembahyangan Purnama. Dan dipuput oleh Pinandita di Batam yaitu Pinandita Putu Satria Yasa & Pinandita I Wayan Catra Yasa.
    5. Pelinggih Pengapit Lawang.
      Pelinggih ini dibangun sebulan setelah pelinggih Panglurah dan telah dihaturkan upacara pemangkuhan pada tanggal 8 Nopember 2003
    6. Papan Nama Pura Agung Amerta Bhuana, Papan Nama dibangun setelah sebulan pelinggih pengapit lawang, terletak dipinggir jalan di areal Parkir / Pratamaning Mandala. Upacara Pemangkuh, telah dilaksanakan pada tanggal 06 Maret 2004 bertepatan dengan persembahyangan Purnama Sasih Kesanga.
    7. Peresmian Oleh Bapak Menteri Agama Republik Indonesia
      Peresmian dilakukan hari Rabu tanggal 16 Juni 2004 dihadiri oleh umat Hindu di Batam, tokoh masyarakat, tokoh agama, Muspida, Pejabat di lingkungan Otorita Batam, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Batam, Ketua Otorita Batam, Walikota Batam, Ka Kanwil Departemen agama Propinsi Tk. I Riau, Dirjen Bimas Hindu Budha Departemen agama RI dan Mentri Agama Republik Indonesia bapak Prof. Dr. H. Agil Said Husin Al Munawar, MA.
    8. Pembangunan Bale Wantilan/ Gedung Serba Guna (Tahun 2004-2005)
      Mengingat aktifitas umat Hindu Batam dari waktu ke waktu terus meningkat maka dipandang perlu untuk membangun Wantilan yang merupakan bangunan serba guna. Pembangunan wantilan ini baru dapat diselesaikan pada tanggal 9 Pebruari 2005 dan dilanjutkan dengan upacara pemlaspas alit pada tanggal 10 Pebruari 2005.
    9. Kori Agung dan Apit Lawang (2005 – 2006)
      Kori Agung ini terdiri dari tiga pintu gerbang, pintu gerbang utama yang di tengah difungsikan hanya pada saat pelaksanaan upacara besar sebagai pemedal Ida Betara. Sementara dua gerbang lainnya berada di sebelah kiri dan kanan gerbang utama. Pintu Gerbang sebelah kanan untuk sarana umat masuk ke area Utamaning Mandala, sementara pintu Gerbang sebelah kiri untuk sarana umat keluar dari area Utamaning Mandala.Pembangunan Kori Agung ini dilengkapi dengan dua pelinggih Apit Lawang. Pelinggih Apit Lawang ini berfungsi sebagai penjaga lingkungan Utamaning Mandala. Peletakan batu pertama pembangunan Kori Agung dilaksanakan pada tanggal 3 Maret 2005 Biaya pembangunannya berasal dari punia umat Hindu Batam.
    10. Gedong Batu, Bale Pawedan, Bale Kulkul (Tahun 2006)
      Gedong Batu ini dibangun sebagai gedong penyimpenan Ratu Gede Banaspati Raja beserta pengiring beliau Ratu Istri dan Ratu Rarung. Peletakan batu pertama pembangunannya dilaksanakan pada tahun 2006.  Bale Pawedan dibangun sebagai tempat sang sulinggih melakukan puja astawa. Peletakan batu pertama pembangunannya dilaksanakan pada tahun 2006. Bale Kulkul dibangun sebagai simbol dewa Iswara, yang secara fisik berwujud sebuah bangunan yang dilengkapi dengan dua buah kulkul lanang dan wadon. Kulkul ini dibunyikan menjelang pelaksanaan upacara keagamaan, yang mempunyai makna sekala dan niskala. Makna sekala dimaksudkan untuk memberitahukan kepada umat untuk hadir, makna niskala dimaksudkan untuk menedunkan Dewa Iswara.
    11. Bale Pepelik, Pelinggih Ratu Mas Melanting, Taman Sari dan Penyengker (Tahun 2006 – 2009)
      Bale Pepelik merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat pesandekan Ida Betara baik sebelum berstana di Padmasana maupun ketika hendak lunga melelancaran, misalkan ke beji, ke sagara dan ke tempat yang dianggap suci pada perayaan hari raya keagamaan besar.Pelinggih Ratu Mas Melanting merupakan tempat berstananya Ratu Ayu Mas Melanting sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi sebagai penguasa kesejahteraan. Taman Sari adalah bangunan yang berwujud kolam yang secara simbolis berfungsi sebagai tempat untuk melakukan upacara pensucian Ida Betara yang secara fisik disimbolkan berupa Pratima.Penyengker adalah bangunan pembatas antar mandala, yaitu antara utamaning mandala dengan madyaning mandala dan antara madyaning mandala dengan nistaning mandala. Bale Pepelik, Pelinggih Ratu Mas Melanting, Taman Sari dan Pondasi Tembok Penyengker baru dapat diselesaikan beberapa hari menjelang Ngenteg Linggih yaitu pada tanggal 25 Oktober 2009 (masih dalam kondisi minimal untuk memenuhi persyaratan minimal dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih).
    12. Ngenteg Linggih Pura Agung Amerta Bhuana (Tahun 2009)
      Beberapa bangunan inti dari sebuah pura telah diwujudkan. Untuk untuk mensucikan sekaligus menyatukannya menjadi sebuah pura yang utuh maka pada tanggal 2 Nopember 2009 dilaksanakan upacara Ngenteg Linggih. Upacara Ngenteg Linggih tersebut di pimpin oleh Ida Pedanda Istri Mayun dari Jakarta.
    13. Pembangunan Bale Peselang di Mandala Utama, Status 80% selesai, menunggu penyempurnaan lantai, pondasi dan plapon. Saat ini Bale Paselang difungsikan sebagai Gedong Penyimpanan wastra Pura dan juga peralatan lainnya untuk mendukung kegiatan di Pura Agung seperti Gamelan Bali, sound system dan pakaian penari sakral.
    14. Pengerasan Jalan Lingkar Pasraman, Status 100% selesai dengan pengerasan dan pengaspalan dari pinggir jalan umum sampai di depan bekas bangunan Bali Jegeg. Anggaran 100% dari anggaran Pemerintah Kota Batam.
    15. Pembangunan Gedung Pasraman, sudah selesai dua ruang kelas dan sisanya dipakai sebagai aula.
    16. Penyempurnaan Tangga Bale Pepelik dan Tangga Kori Agung, Status 100% selesai.
    17. Penyempurnaan Pelinggih Ratu Mas Melanting dan Taman Sari, status 100% selesai.
    18. Pembangunan Graha Pinandita, selesai dan layak huni satu lantai dengan 3 kamar tidur, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Di plaspas pada Rabu, 26 Maret 2014 oleh Jero Mangku Putu Satriayasa dan Agung Arif Suryanata yang disaksikan oleh bebrapa perwakilan umat.

Walaupun beberapa bangunan utama telah berhasil dibangun namun Pembangunan Pura Agung Amerta Bhuana terus berlangsung agar kenyamanan menjalankan ibadah umat Hindu semakin meningkat. Untuk itu bagi para dermawan/ dermawati yang ingin memberikan Punianya silakan menghubungi Pengurus Pura Agung atau Para Pengurus Lembaga Agama Hindu.

·